Oleh Pemimpin Redaksi Arasvara Sutiyono
JUMAT malam, 7 Agustus 2026, tepatnya pukul 21:30 kehidupan warga di sekitar Jalan Abdul Muis, Jakarta Pusat, sempat panik. Gedung Bapenda Pemprov DKI Jakarta dimangsa api.
Kepulan asap dan kobaran api melalap lantai 11 hingga 16 gedung teknis Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Pemprov DKI Jakarta.
Petugas Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Pusat yang mendapat laporan adanya musibah kebakaran langsung bergerak. Sebanyak 37 unit mobil pemadam kebakaran merapat ke lokasi.
Para petugas pemadam kebakaran dengan sigap berjibaku memadamkan kobaran api. Upaya itu agar "si jago merah" tidak menjilat ke mana-mana.
Dua hari setelah menghanguskan gedung di Abdul Muis, "si jago merah" juga memangsa gedung sekolah di Jalan Terusan, Bandengan Utara, Pejagalan, Jakarta Utara. Sekitar 70an petugas mampu memadamkan kobaran api.
Masih di bulan Agustus 2026, permukiman warga Cipinang Besar Utara, Jatinegara, Jakarta Timur dan deretan rumah tinggal warga di wilayah kota administratif yang sama juga dimangsa "si jago merah".
Lebih memprihatinkan pada 1 Juni 2026, kebakaran hebat melanda di permukiman padat hunian penduduk tepatnya belakang Pasar Jiung, Kebon Kosong, Jakarta Pusat.
Kobaran api yang sangat besar ini menghanguskan 250 rumah. Ribuan warga terpaksa harus mengungsi karena tempat tinggalnya sudah menjadi abu.
Bukan itu saja, pada tahun yang sama musibah kebakaran juga terjadi di wilayah Jakarta Barat yakni Tambora dan Tanjung Duren. Rentang waktu Januari-Juni 2026, telah beberapa kali terjadi musibah kebakaran.
Deretan fakta ini adalah sinyal untuk memaksa semua pihak waspada baik para stakeholder maupun warga. Apalagi saat ini sedang kemarau (El Nino) atau musim kering yang tentunya rawan dengan musibah kebakaran.
Penyebab musibah kebakaran beragam. Namun, biasanya musibah ini terjadi lantaran korsleting listrik, kelalaian manusia (lupa mematikan kompor dan merokok sembarangan), faktor teknis atau alam (kebocoran gas dan cuaca panas ekstrem).
Rilis dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) musim panas (El Nino) di sebagian wilayah Indonesia termasuk Jakarta tahun 2026 akan panjang. BMKG memperkirakan El Nino hingga Oktober atau November.
El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan air laut di samudra pasific di atas kondisi normal.
Mengacu data Pemprov DKI Jakarta tercatat di empat wilayah kota administrasi terdapat daerah rawan tinggi kebakaran. Misalnya Jakarta Barat terdapat di Tambora, Kalideres dan Cengkareng.
Jakarta Utara terdapat di Penjaringan dan Cilincing. Jakarta Timur di Jatinegara dan Cakung. Di Jakarta Pusat di Johar Baru dan Kebon Kosong.
Meminimalisir musibah kebakaran tidak ada salahnya bila semua pihak baik stakeholder maupun warga bersikap siaga dan mengantisipasi dini dari bahayanya "si jago merah".
Sikap itu bagi Pemprov DKI Jakarta, bisa berupa meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat seputar pentingnya mengganti instalasi listrik rusak, mempermudah akses air atau memperbanyak penyediaan hidran mandiri dan pos pemadam di sekitar daerah rawan kebakaran terutama di permukiman padat penduduk,Bagi masyarakat sebaiknya jangan bersikap masa bodoh dan tidak boleh menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya ancaman "si jago merah" itu kepada aparat Pemprov DKI Jakarta.
Warga dengan penuh kesadaran bersiap diri, sigap dan "tidak boleh lalai" karena di saat El Nino panjang biasanya rawan terjadi musibah kebakaran. Waspadalah dari ancaman "si jago merah". ***