ARASVARA.ID - Erupsi Gunung Anak Krakatau 2026 sempat membuat panik masyarakat. Pasalnya, abu vulkanik menyebar ke sejumlah wilayah Pulau Jawa dan Sumatra.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau berada di kawasan Selat Sunda. Peristiwa ini cukup membuat panik penduduk sekitar, terutama yang tinggal di pesisir pantai.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran mengenai potensi tsunami. Untuk mengetahui kondisi terkini, BMKG melakukan pemantauan terhadap perairan di sekitar Gunung Anak Krakatau dan Selat Sunda.
Apakah Erupsi Gunung Anak Krakatau 2026 Berpotensi Tsunami?
Berdasarkan hasil pemantauan BMKG melalui HF Radar Array berpasangan di Carita dan Tanjung Lesung per 7 September 2026 pukul 08.00 WIB, menampilkan data terjadinya tsunami tergolong rendah, yaitu di bawah 50 persen.
Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa pihaknya juga melakukan pemantauan melalui 20 tsunami gauge yang tersebar di sekitar Selat Sunda.
Dari data yang mereka peroleh, tidak mendeteksi adanya kondisi tertentu pada muka air laut yang memicu potensi terjadinya tsunami.
Sementara itu, BMKG juga mencatat adanya peningkatan petir vulkanik serta geomagnetic pada pukul 00.00 hingga 04.00 WIB yang diukur melalui lightning detector dan sensor magnetik bumi.
“Namun, intensitas gangguan geofisika ini tercatat lebih rendah jika dibandingkan dengan erupsi pertama pada 4 September lalu,” jelas Ardhasena.
Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau 2026 pada Perjalanan Laut
Berdasarkan pantauan BMKG, jalur penyebrangan Selat Sunda dalam kondisi aman.
Setelah melakukan pemeriksaan, ditemukan data bahwa arus permukaan air laut cenderung bergerak ke arah barat daya menuju Samudra Hindia.
Kecepatan arus berada pada kisaran 0.4 hingga 0.9 knot. Tidak hanya itu, tinggi gelombang air laut juga tercatat sekitar 0.5 sampai 2.0 meter.
Selain itu, kondisi cuaca di wilayah Gunung Anak Krakatau - Selat Sunda didominasi cerah hingga cerah berawan.
Data informasi yang diperoleh menjadi bahan pertimbangan otoritas dalam sistem pemutusan operasional transportasi dan penyebrangan.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan akan terus memantau perkembangan dan memperbarui data kondisi alam di sekitar Gunung Anak Krakatau, serta menginformasikannya kepada masyarakat.
"Kami memastikan BMKG terus memperbarui data cuaca, penerbangan, dan geofisika secara berkala, sehingga masyarakat dapat beraktivitas dengan tenang dengan mengacu pada informasi resmi dari BMKG, PVMBG, BNPB, dan pemerintah daerah,” ujar Faisal.