ARASVARA.ID - Pada hari ini, Selasa 3 November 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa menutup sesi perdagangan di zona merah dengan kejatuhan yang cukup dalam, sekitar minus 3,78% ke level 4.904.

Adapun, tekanan jual mendominasi hampir seluruh sektor saham sejak sesi pembukaan hingga penutupan sore hari. Kepanikan investor ini membuat posisi indeks terperosok jauh dari level psikologis penting yang sempat bertahan sebelumnya.

Lantas, ulasan berikut membedah secara mendalam kronologi kejatuhan IHSG, rincian data volume transaksi, sektor-sektor pemberat utama, hingga pengaruh sentimen pemilu sela AS dan anjloknya harga minyak dunia.

Kronologi Pembukaan Hingga Penutupan IHSG di Zona Merah

Melansir dari Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG mengawali perdagangan harian dengan catatan positif ketika sempat dibuka menguat menyentuh area level 5.126. Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama karena tekanan jual langsung membesar dan menyeret indeks turun menembus level psikologis 5.000 sebelum jarum jam menunjukkan pukul 11.00 WIB.

Memasuki sesi perdagangan siang hari, posisi indeks terpantau berada di level 4.942,84 atau terkoreksi 3,02%. Tekanan ternyata masih berlanjut pada sesi kedua dengan tambahan pelemahan sekitar 38 poin, hingga akhirnya terkunci di angka 4.904,29 pada saat penutupan pasar.

Secara akumulatif, IHSG mengakhiri perdagangan dengan anjlok sebesar 192,54 poin atau setara dengan 3,78%. Angka penurunan drastis ini mencerminkan tingginyapositif volatilitas yang sedang melanda pasar keuangan domestik.

Rincian Volume Transaksi dan Tekanan Merata di Seluruh Sektor

Aktivitas perdagangan saham pada hari ini mencatatkan volume yang sangat masif di tengah kepanikan pelaku pasar. Berdasarkan catatan data, total volume transaksi harian berhasil mencapai 226,69 juta lot saham dengan nilai perputaran uang menyentuh angka Rp10,22 triliun.

Data dari Refinitiv menunjukkan pemandangan yang suram karena seluruh sektor mengalami tekanan jual tanpa terkecuali. Sektor basic materials memimpin daftar penurunan terdalam dengan kejatuhan mencapai 5,69%, disusul oleh sektor real estate sebesar 5,16%.

Tekanan masif juga melanda sektor energy yang merosot 4,29%, sektor consumer cyclicals turun 3,13%, serta sektor financials yang terkoreksi 3,09%. Luasnya area pelemahan ini memperlihatkan aksi keluar massal yang dilakukan oleh investor institusi maupun ritel.

Jajaran Saham Big Banks dan Emiten Utama Penekan Indeks

Pelemahan tajam IHSG hari ini disetir oleh aksi lepas saham-saham berkapitalisasi besar (blue chips), terutama dari sektor perbankan pelat merah dan swasta. Emiten bank besar menjadi motor utama penyeretan indeks ke zona merah akibat tekanan jual asing.

Saham-saham papan atas yang paling berat membebani laju pergerakan IHSG di antaranya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI).

Page Break

Selain kelompok perbankan, kejatuhan indeks juga diperparah oleh koreksi harga pada saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) dan PT Astra International Tbk. (ASII). Tekanan pada saham-saham unggulan ini langsung memicu efek domino ke seluruh lini pasar.

Daftar Saham Top Laggards Penekan Laju Pergerakan Bursa

Selain emiten berkapitalisasi raksasa, sejumlah saham lapis kedua dan ketiga turut mencatatkan koreksi signifikan yang menahan potensi rebound indeks. Saham-saham penekan tambahan ini bergerak melemah sepanjang sesi perdagangan berlangsung.

Berdasarkan pantauan bursa, jajaran saham penekan koreksi indeks hari ini di antaranya PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk. (MKNT) serta PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA).

Tekanan jual serupa juga dialami oleh saham PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI), PT ITSEC Asia Tbk. (CYBR), dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP). Kehadiran emiten-emiten ini memperkuat dominasi warna merah di papan perdagangan.

Bayang-Bayang Sentimen Politik Pemilu Sela Amerika Serikat

Sentimen dari pasar global memberikan tekanan psikologis tersendiri bagi para investor di bursa domestik, terutama terkait pelaksanaan pemilu sela Amerika Serikat. Pesta demokrasi di negeri Paman Sam tersebut membawa taruhan besar bagi posisi Presiden Donald Trump dan Partai Republik.

Partai Demokrat berupaya keras merebut kendali penuh atas Kongres di tengah merosotnya tingkat kepuasan publik terhadap kepemimpinan Trump serta tekanan biaya hidup yang tinggi. Berdasarkan data University of Florida Election Lab, lebih dari 57 juta warga AS telah memberikan suara awal hingga hari Senin, melampaui rekor 46 juta pemilih pada pemilu sela tahun 2022 lalu.

Hasil akhir dari pemilu sela ini dinilai krusial karena akan menentukan arah kebijakan fiskal, anggaran belanja, dan stabilitas pasar keuangan global ke depan. Para investor memilih bersikap hati-hati sambil memantau dinamika perpolitikan Washington.

Sentimen Positif Kejatuhan Harga Minyak Dunia bagi Indonesia

Di sisi lain, pasar komoditas global diwarnai oleh anjloknya harga minyak mentah dunia lebih dari 7% pada perdagangan sebelumnya. Penurunan harga ini dipicu oleh harapan meredanya ketegangan geopolitik menyusul sinyal perundingan damai antara AS-Israel melawan Iran.

Minyak mentah Brent tercatat ditutup merosot 7,63% ke posisi 104,77 US Dolar per barel, sementara jenis West Texas Intermediate (WTI) AS jatuh 7,36% ke level 96,46 US Dolar per barel. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan keterbukaan dialog, sementara Presiden Trump mengisyaratkan potensi tercapainya kesepakatan damai.

Bagi Indonesia yang berstatus sebagai negara importir neto minyak, kejatuhan harga energi ini seharusnya menjadi katalis positif untuk meredakan tekanan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta laju inflasi domestik.

Data Makro Ekonomi Domestik dan Kondisi Manufaktur China

Pelaku pasar di tanah air juga menantikan hasil kajian penting dari Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang menggelar rapat serta konferensi pers hari ini. Publik menaruh harapan besar agar pemerintah mampu memberikan arah kebijakan yang jelas untuk meredam kepanikan pasar modal dan rupiah.

Page Break

Sementara itu, dari kawasan Asia, data ekonomi China menunjukkan bahwa PMI Manufaktur versi RatingDog turun tipis ke level 52,0 pada Oktober 2026 dari 52,1 pada September. Meskipun sedikit melandai, angka ini tetap melampaui ekspektasi pasar di kisaran 51,6.

Kinerja pabrik di China tersebut mencatatkan fase ekspansi selama 11 bulan berturut-turut, didorong oleh kenaikan pesanan baru serta peningkatan volume ekspor. Stabilitas manufaktur mitra dagang utama ini diharapkan mampu menopang ketahanan ekonomi regional.