ARASVARA.ID - Pada hari Senin, 2 November 2026, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bangkit ditutup menguat signifikan pada zona hijau perdagangan awal bulan.
IHSG tercatat naik 39,78 poin atau menguat sebesar 0,79 persen menuju posisi level 5.096,83, setelah sempat mengalami pergerakan fluktuatif sejak pembukaan sesi pagi.
Adapun, perdagangan hari ini menjadi momen penting karena Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai merilis aturan baru dengan mengecualikan 81 saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) atau konsentrasi kepemilikan tinggi dari perhitungan IHSG.
Lantas, langkah eliminasi dengan total bobot sekitar 18 persen tersebut menyisakan 837 saham konstituen, di mana redistribusi bobot berjalan lancar tanpa memicu guncangan drastis pada indeks.
Ulasan berikut menyajikan rincian dinamika pergerakan IHSG, sektor-sektor penopang penguatan bursa, saham-saham peraih kenaikan tertinggi (top gainers), hingga rangkuman data transaksi pasar modal domestik secara mendalam.
Dinamika Pergerakan IHSG dan Lonjakan Dari Titik Terendah Harian
IHSG mengawali perdagangan dengan tekanan tajam hingga sempat terlempar dari level psikologis 5.000 dan menyentuh titik terendah harian di kisaran 4.980-an. Kendati demikian, aksi beli secara bertahap berhasil membalikkan arah pergerakan indeks kembali ke zona hijau sebelum menginjak pukul 10.00 WIB.
Penguatan IHSG terus berlanjut hingga sempat menyentuh level tertinggi harian di atas 5.120 pada penutupan sesi pertama. Memasuki sesi kedua, indeks bergerak meliuk pada rentang 5.080 hingga 5.120 sebelum akhirnya mengunci posisi di angka 5.096,83. Total volume perdagangan mencapai 286,06 juta lot saham dengan nilai transaksi sebesar Rp10,07 triliun.
IHSG menguat 39,78 poin (0,79%) ke posisi 5.096,83 setelah sempat anjlok ke titik terendah 4.980-an.
Volume transaksi perdagangan mencatatkan 286,06 juta lot saham dengan total nilai transaksi Rp10,07 triliun.
Eliminasi 81 saham HSC dengan porsi bobot 18% menyisakan 837 konstituen dalam perhitungan indeks.
Sektor Utilities dan Bahan Baku Menjadi Motor Utama Penguatan Bursa
Selanjutnya, penguatan IHSG ditopang oleh kinerja solid sejumlah sektor saham papan atas berdasarkan data Refinitiv. Sektor utilitas (utilities) memimpin penguatan bursa dengan lonjakan tajam hingga 9,86 persen, disusul oleh sektor bahan baku (basic materials) yang mencatatkan kenaikan sebesar 2,57 persen.
Selain itu, sektor jasa akademik dan pendidikan (academic & educational services) turut mendukung pergerakan dengan naik 1,22 persen, diikuti oleh sektor energi yang menguat 0,38 persen. Dorongan kuat dari sektor-sektor penopang ini sanggup menahan tekanan jual pada emiten besar lainnya.
Sektor utilities melesat 9,86% dan sektor basic materials menguat 2,57% sebagai penopang utama IHSG.
Sektor academic & educational services menguat 1,22% serta sektor energy naik sebesar 0,38%.
Penggerak Utama Indeks dan Lini Emiten Penahan Laju IHSG
Selain itu, sejumlah saham emiten berkapitalisasi besar bertindak sebagai pendorong (movers) utama penguatan IHSG sepanjang perdagangan. Emiten penopang utama tersebut di antaranya PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), PT Capital Financial Indonesia Tbk. (CASA), dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA).
Di sisi lain, pergerakan indeks sempat tertahan oleh beberapa emiten penekan (laggards). Saham-saham pemberat laju IHSG pada hari ini antara lain PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), dan PT Bayan Resources Tbk. (BYAN).
Saham BREN, BUMI, BRMS, CASA, dan DSSA menjadi penopang utama penguatan indeks bursa hari ini.
Saham MORA, AADI, TLKM, DCII, dan BYAN tercatat sebagai emiten pemberat laju pergerakan IHSG.
Deretan Saham Peraih Keuntungan Terbesar di Posisi Teratas
Meski begitu, persaingan di jajaran saham pencetak keuntungan tertinggi (top gainers) berlangsung sangat ketat. Saham PT Dafam Property Indonesia Tbk. (DFAM) dan PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk. (MKNT) berhasil mengamankan posisi teratas perdagangan dengan lonjakan harga yang signifikan.
Lini saham top gainers diisi oleh emiten-emiten dengan kenaikan persentase memukau, seperti PT Sentra Food Indonesia Tbk. (FOOD) dan PT Asuransi Jiwa Syariah Jasa Mitra Abadi Tbk. (JMAS). Kehadiran jajaran saham ini mempertegas antusiasme pelaku pasar pada perdagangan awal pekan.
DFAM dan MKNT sukses memimpin daftar 10 saham top gainers pada perdagangan Senin 2 November 2026.
Saham FOOD dan JMAS turut mencatatkan lonjakan harga yang mengantarkan emiten ke jajaran teratas bursa.
Sederet Sentimen Makro Ekonomi Domestik dan Global Pekan Ini
Berikutnya, pergerakan pasar modal pekan ini turut dipengaruhi oleh rilis data fundamental penting, seperti rilis PMI Manufaktur Indonesia periode Oktober 2026 oleh S&P Global. Sebelumnya, PMI manufaktur Indonesia telah kembali masuk ke zona ekspansi pada September di level 52,48.
Selain itu, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) Oktober 2026 dengan perkiraan inflasi bulanan (mtm) sebesar 0,24% dan inflasi tahunan (yoy) mencapai 3,25%. Sentimen global juga diwarnai oleh kenaikan PMI manufaktur China RatingDog ke 52,1 serta persiapan gelaran pemilu sela di Amerika Serikat.
Data PMI Manufaktur Indonesia tercatat berada di zona ekspansi seiring peningkatan pesanan industri.
Inflasi tahunan (yoy) Oktober 2026 diperkirakan berada di angka 3,25% dengan inflasi bulanan (mtm) 0,24%.
Sentimen pasar global dibayangi rilis data tenaga kerja AS (JOLTS, ADP, NFP) serta gelaran pemilu sela AS.
Peluang Investasi dan Sikap Pelaku Pasar Modal Menghadapi Volatilitas
Lalu, pergerakan IHSG yang berhasil rebound dari level terendahnya mencerminkan ketahanan pasar modal Indonesia di tengah penyesuaian aturan BEI dan ketidakpastian global. Redistribusi bobot saham pasca-eliminasi saham HSC memberikan gambaran portofolio indeks yang lebih mencerminkan kondisi riil likuiditas.
Investor diimbau untuk tetap mencermati pergerakan harga bahan baku serta agenda politik global yang berpotensi memicu volatilitas jangka pendek. Pendekatan analisis teknikal dan fundamental yang matang menjadi kunci utama dalam mengeksekusi peluang cuan di bursa saham.
Eliminasi saham HSC menyajikan gambaran portofolio indeks yang lebih mencerminkan likuiditas pasar riil.
Investor disarankan untuk terus memantau dinamika inflasi, data PMI, serta sentimen global pekan ini.