ARASVARA.ID - Pergerakan harga komoditas telur ayam segar di Indonesia, Rabu, 21 Oktober 2026, menunjukkan pola yang cukup dinamis antara tingkat produsen (peternak) dan tingkat konsumen (pasar tradisional).
Berdasarkan data resmi Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional Bank Indonesia, terdapat perbedaan harga yang signifikan antara harga tebus di peternak dan harga jual eceran di pasar tradisional.
Telur merupakan salah satu sumber protein hewani utama yang paling terjangkau bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Penyesuaian nilai jual komoditas ini berpengaruh langsung terhadap angka inflasi bahan pangan serta daya beli rumah tangga harian.
Guna memberikan panduan belanja yang objektif dan transparan, berikut adalah rincian data harga telur ayam segar terbaru yang dikompilasi secara teperinci dari tingkat peternak hingga pedagang eceran di berbagai wilayah.
Rata-Rata Harga Telur Ayam di Pasar Tradisional
Berdasarkan data PIHPS Nasional yang dikelola Bank Indonesia, harga eceran rata-rata nasional untuk telur ayam segar di pasar tradisional berada pada posisi Rp30.950 per kilogram. Angka ini merupakan harga acuan akhir yang berlaku untuk transaksi langsung antara pedagang eceran dan konsumen rumah tangga.
Nominal harga eceran tersebut mencerminkan akumulasi biaya dari seluruh rantai pasok distribusi komoditas pangan nasional. Pembentukan harga di tingkat pasar tradisional turut dipengaruhi oleh variabel lokasi geografis, tingginya permintaan konsumen setempat, serta ongkos moda transportasi dari daerah sentra produksi.
Rata-rata eceran nasional di pasar tradisional: Rp30.950 per kg.
Cakupan data: Transaksi pedagang eceran langsung ke konsumen akhir.
Acuan Harga Telur Ayam di Tingkat Peternak Nasional
Sementara itu, laporan pemantauan harian PIHPS Nasional mencatat bahwa rata-rata harga acuan telur ayam di tingkat peternak nasional berada di level Rp22.793 per kilogram. Capaian angka ini mencatatkan penurunan tipis sebesar 0,2 persen dibandingkan posisi perdagangan hari sebelumnya.
Secara keseluruhan di skala nasional, rentang harga telur di tingkat kandang peternak bergerak antara Rp20.300 hingga Rp32.000 per kg. Variasi rentang harga yang terbilang lebar ini disebabkan oleh perbedaan efisiensi pakan, ketersediaan stok lokal, serta jarak distribusi antarwilayah di Indonesia.
Rata-rata nasional tingkat peternak: Rp22.793 per kg (-0,2% harian).
Rentang harga kandang nasional: Rp20.300 – Rp32.000 per kg.
Rincian Harga Telur Peternak di Kawasan Jabodetabek
Di kawasan Jabodetabek, harga acuan telur ayam di tingkat peternak terpantau sangat konsisten dan seragam di level Rp22.500 per kilogram. Angka ini berlaku stabil tanpa perubahan persentase harian di sejumlah kota utama.
Kestabilan harga kandang di Jabodetabek mencakup wilayah DKI Jakarta, Depok, Tangerang, Bekasi, hingga Bogor. Keseimbangan harga ini menjaga kepastian nilai tebus bagi para distributor skala besar yang melayani kebutuhan pasar konsumsi utama di ibu kota dan sekitarnya.
DKI Jakarta: Rp22.500 per kg (0,0%).
Depok: Rp22.500 per kg (0,0%).
Tangerang: Rp22.500 per kg (0,0%).
Bekasi: Rp22.500 per kg (0,0%).
Bogor: Rp22.500 per kg (0,0%).
Rincian Harga Telur di Wilayah Jawa Barat
Untuk area Jawa Barat di luar Jabodetabek, pergerakan harga telur di tingkat kandang peternak bervariasi antara Rp22.100 hingga Rp22.400 per kilogram. Perbedaan harga tipis antarwilayah ini umumnya dipicu oleh kedekatan lokasi peternakan dengan jalur logistik utama.
Di wilayah Serang, Sukabumi, dan Bandung, harga acuan peternak tercatat sebesar Rp22.400 per kg. Sementara di Tasikmalaya dan Cirebon berada pada level Rp22.300 per kg, Cianjur di angka Rp22.200 per kg, serta Ciamis dan Kuningan dipatok pada posisi Rp22.100 per kg.
Serang, Sukabumi, Bandung: Rp22.400 per kg.
Tasikmalaya, Cirebon: Rp22.300 per kg.
Cianjur: Rp22.200 per kg.
Ciamis, Kuningan: Rp22.100 per kg.
Penyebab Margin Perbedaan Harga Peternak dan Pasar Eceran
Selisih harga antara Rp22.793 per kg di tingkat peternak dan Rp30.950 per kg di pedagang pasar eceran membentuk margin sebesar kurang lebih Rp8.157 per kg. Margin ini tergolong lumrah akibat kompleksitas rantai pasok dari kandang hingga meja konsumen.
Komponen penyusun selisih harga tersebut meliputi biaya kemasan (peti/trey), penyusutan atau risiko telur pecah selama perjalanan, tarif moda transportasi logistik, margin profit agen/distributor, hingga margin keuntungan eceran pedagang pasar tradisional.
Faktor Pembentuk Harga Telur di Tingkat Peternak
Pembentukan harga telur ayam di tingkat produsen sangat dipengaruhi oleh komponen biaya operasional peternakan harian. Salah satu elemen paling dominan adalah fluktuasi harga pakan ayam ras yang banyak mengandalkan jagung dan jagung impor/konsentrat.
Selain pakan, aspek pendukung seperti harga bibit ayam (Day Old Chick / DOC), biaya obat-obatan dan pakan suplemen, efisiensi konsumsi energi di kandang, serta produktivitas ayam petelur turut menentukan batas bawah (bottom line) harga jual peternak agar tidak mengalami kerugian.
Fungsi Data Harga Acuan Bagi Pembeli dan Pelaku Usaha
Penyediaan data harga telur dari sumber kredibel seperti Bank Indonesia (PIHPS) memberikan transparansi informasi bagi seluruh ekosistem pasar. Bagi konsumen rumah tangga, data ini mencegah potensi pematokan harga eceran yang berlebihan (markup) oleh oknum pedagang.
Bagi para pengusaha kuliner, pedagang eceran, maupun pelaku industri olahan pangan, keterbukaan data harga tingkat peternak sangat membantu dalam menghitung estimasi Harga Pokok Penjualan (HPP) secara lebih akurat dan presisi.
Stabilitas Pasokan dan Prospek Harga Telur Mendatang
Ketersediaan stok telur nasional yang memadai menjadi kunci utama dalam menjaga agar fluktuasi harga tetap berada dalam koridor yang wajar. Kerjasama intervensi distribusi antara pemerintah, otoritas moneter, dan asosiasi peternak terbukti ampuh meredam lonjakan harga yang mendadak.
Di masa mendatang, efisiensi rantai distribusi digital yang menghubungkan langsung daerah sentra peternakan dengan kawasan padat konsumsi diharapkan mampu menekan margin harga eceran, sehingga baik peternak maupun konsumen sama-sama mendapatkan tingkat harga yang adil dan seimbang.