ARASVARA.ID - Apa itu Investasi? Melansir dari Buku Saku Pasar Modal, Berinvestasi secara tertentu adalah kegiatan menanamkan modal atau dana pada suatu aset, instrumen, atau proyek dengan harapan mendapatkan keuntungan (return) atau peningkatan nilai di masa mendatang.
Secara sederhana, jika menabung bertujuan untuk menyimpan uang agar aman, investasi bertujuan untuk mengembangkan uang agar nilainya bertambah seiring waktu.
Tujuan Investasi
Melansir dari BUKU SAKU PSR MODAL OJK 2023, setiap orang berinvestasi dengan alasan dan target keuangan yang berbeda-beda. Beberapa tujuan utamanya meliputi:
Melindungi Nilai Uang dari Inflasi: Mencegah penurunan daya beli akibat kenaikan harga barang dan jasa dari tahun ke tahun.
Mencapai Target Keuangan Jangka Panjang: Mempersiapkan dana untuk kebutuhan besar, seperti membeli rumah, pendidikan anak, atau dana pensiun.
Mencapai Kebebasan Finansial (Financial Freedom): Membangun pendapatan pasif (passive income) dari hasil investasi sehingga kebutuhan hidup tercukupi tanpa harus terus bekerja aktif.
Diversifikasi Pendapatan: Menambah sumber penghasilan di luar gaji harian atau bulanan.
Manfaat Investasi
Berinvestasi secara terencana memberikan manfaat langsung maupun tidak langsung bagi kondisi finansial:
Pertumbuhan Kekayaan melalui Keuntungan Berganda (Compound Interest): Keuntungan yang didapat bisa diinvestasikan kembali sehingga nilai modal membengkak lebih cepat secara eksponensial.
Kemandirian Finansial di Masa Depan: Memiliki cadangan aset yang cukup untuk kebutuhan jangka panjang.
Menghindari Kebiasaan Konsumtif: Mendorong kedisiplinan mengalokasikan uang pada hal yang bernilai produktif dibanding membeli barang yang menyusut nilainya.
Ketenangan Pikiran (Peace of Mind): Memberikan rasa aman dari sisi finansial karena memiliki rencana masa depan yang terukur.
Instrumen Investasi
Instrumen investasi dikelompokkan berdasarkan profil risiko, potensi imbal hasil (return), dan jangka waktunya:
Pasar uang dan Deposito : resiko sangat rendah dan pendapatan 3 sampai 5 persen per tahun. Deposito bank, Reksa Dana Pasar Uang (RDPU). Cocok untuk dana darurat & jangka pendek (< 1 tahun).
Obligasi atau Surat Utang: resiko cenderung sedang dan pendapatan 6 sampai 9 persen per tahun. SUN, ORI, Sukuk, Obligasi Korporasi. Memberikan imbal hasil berkala (kupon).
Emas dan Komoditas : resiko rendah dan pendapatan cukup tinggi untuk investasi jangka panjang. Emas batangan/logam mulia. Berfungsi sebagai pembeku nilai (safe haven) terhadap inflasi.
Properti : resiko cenderung sedang dan pendapatan moderat hingga tinggi untuk investasi jangka panjang. Tanah, rumah, atau apartemen. Menghasilkan capital gain dan pendapatan sewa; butuh modal besar & kurang likuid.
Saham (equitas) : resiko sangat tinggi dan pendapatan juga tinggi (high risk high return). Kepemilikan atas modal perusahaan. Sumber keuntungan dari capital gain dan dividen.
Kripto dan Aset alternatif : resiko sangat tinggi dan pendapatan juga tinggi (high risk high return). Aset digital (cryptocurrency), peer-to-peer lending. Memiliki fluktuasi harga sangat ekstrem.
Resiko Dalam Investasi
Dalam dunia investasi berlaku hukum utama: "High Risk, High Return; Low Risk, Low Return". Beberapa risiko utama meliputi:
Risiko Pasar (Market Risk): Penurunan nilai aset akibat fluktuasi pasar, kondisi ekonomi macro, atau isu geopolitik.
Risiko Likuiditas (Liquidity Risk): Kesulitan mencairkan aset menjadi uang tunai secara cepat tanpa mengorbankan harganya (contoh: investasi properti).
Risiko Inflasi (Inflation Risk): Kondisi saat imbal hasil investasi lebih rendah dibanding persentase inflasi, sehingga daya beli uang tetap menurun.
Risiko Suku Bunga (Interest Rate Risk): Perubahan suku bunga acuan yang mempengaruhi nilai pasar instrumen pendapatan tetap seperti obligasi.
Risiko Gagal Bayar (Default Risk): Ketidakmampuan penerbit surat utang atau peminjam membayar kembali pokok/bunga investasi (pada obligasi korporasi atau P2P lending).