JAKARTA, ARASVARA.ID - Pasca Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai pasar keuangan domestik menunjukkan ketahanan yang lebih baik dari perkiraan.
Meski sempat dikhawatirkan memicu tekanan signifikan di pasar, reaksi investor pada hari pertama berlangsung relatif terkendali. Perhatian pasar kini diperkirakan akan bergeser pada proses transisi kepemimpinan BI dan arah kebijakan yang akan ditempuh ke depan.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan Mirae Asset sebelumnya memperkirakan pengunduran diri gubernur bank sentral akan memicu aksi jual yang lebih besar, khususnya pada saham-saham perbankan. Namun, kondisi tersebut belum terjadi karena investor masih menunjukkan sikap yang relatif konstruktif.
"IHSG memulai pekan dengan kinerja yang lebih resilien dari ekspektasi kami. Kami sebelumnya mengantisipasi sell-off signifikan, khususnya pada saham perbankan, namun BMRI dan BBCA justru menguat, mencerminkan positioning investor yang masih konstruktif dalam jangka pendek," ujar Rully dalam siaran persnya Selasa (28/7/2026).
Menurut Rully, respons tersebut menunjukkan pelaku pasar belum bereaksi secara berlebihan terhadap perubahan kepemimpinan bank sentral. Namun, kondisi tersebut belum berarti risiko telah sepenuhnya mereda. Setelah reaksi awal yang relatif tenang, fokus investor diperkirakan akan beralih pada proses transisi kepemimpinan BI serta konsistensi kebijakan moneter yang akan ditempuh untuk menjaga stabilitas ekonomi dan pasar keuangan.
"Meski demikian, kami melihat risiko ke depan meningkat, terutama terkait persepsi independensi BI yang berpotensi bergeser ke arah pro-growth. Hal ini dapat memicu volatilitas pada aset domestik," papar Rully.
Menurut Rully, kehati-hatian investor mulai tercermin pada pelemahan nilai tukar Rupiah yang sempat menembus Rp18.000 per US Dolar sebelum kembali bergerak di kisaran Rp17.900 per US Dolar. Pada saat yang sama, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun meningkat ke sekitar 7,35 persen, yang mencerminkan meningkatnya premi risiko di pasar.
Sementara itu, Fixed Income Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Jessica Tasijawa mengatakan pasar obligasi domestik saat ini masih menghadapi volatilitas yang cukup tinggi setelah pengumuman pengunduran diri Gubernur BI.
Sebelum pengumuman tersebut, pasar obligasi justru menunjukkan perbaikan yang didukung arus masuk investor asing yang telah mencapai sekitar Rp16 triliun secara year to date (YTD), meningkatnya permintaan dari sektor perbankan, serta peran perusahaan asuransi dan dana pensiun sebagai penopang permintaan domestik.
Namun, menurut Jessica, sentimen investor berubah setelah pengumuman tersebut karena muncul keraguan terhadap transparansi, kredibilitas, dan tata kelola dalam proses transisi kepemimpinan BI. Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil SBN sekitar 9 basis poin, sementara nilai tukar Rupiah kembali bergerak di kisaran Rp18.000 per US Dolar.
"Kami meyakini kejelasan dan langkah pemerintah dalam proses pengambilan keputusan, khususnya terkait pemilihan Gubernur BI yang baru, akan menjadi faktor yang sangat krusial dalam menentukan arah kebijakan ke depan sekaligus memberikan kepastian bagi pasar Indonesia," ujar Jessica.
Meski demikian, Jessica menilai fundamental pasar obligasi Indonesia masih didukung sejumlah faktor positif, mulai dari dipertahankannya peringkat dan outlook Indonesia oleh S&P Global Ratings, penempatan kembali dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp200 triliun di bank-bank BUMN, realisasi fiskal semester I-2026 yang melampaui ekspektasi, hingga berlanjutnya arus masuk investor asing ke pasar SBN dan SRBI yang didukung spread imbal hasil Indonesia yang masih menarik.
Seperti diketahui PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia tergabung ke dalam salah satu kelompok usaha jasa keuangan non-bank global yaitu Mirae Asset Financial Group yang memiliki dana kelolaan sekitar US Dolar 845 miliar (setara Rp 12.400 triliun) pada akhir tahun lalu.
PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia merupakan salah satu Perusahaan efek terbesar dan terbaik di Indonesia dan menjadi anggota bursa teraktif di pasar saham karena volume dan frekuensi perdagangan saham nasabah perusahaan merupakan salah satu yang terbesar sejak 4 tahun terakhir.
Saat ini Mirae Asset memiliki izin sebagai Perantara Pedagang Efek (PPE), Penjamin Emisi Efek (PEE), dan Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD). Nilai modal kerja bersih disesuaikan (MKBD) juga menunjukkan sehatnya operasional perusahaan dan menjadi salah satu yang terbesar. MKBD Mirae Asset di kisaran angka Rp1,23 triliun dalam setahun terakhir.
Angka tersebut jauh di atas ketentuan minimal yang ditetapkan oleh peraturan dan perundang-undangan untuk perusahaan efek, yaitu Rp25 miliar, beserta ketentuan lain. (Dji)