ARASVARA.ID - Generasi muda dikenal cukup melek dengan informasi kesehatan mental. Mereka sering mengamati perilaku orang di sekitarnya. Salah satu bentuk perilaku yang kerap terjadi yaitu silent treatment.

Perbuatan tersebut merupakan tindakan mendiamkan pihak lain dalam jangka waktu lama ketika terjadi konflik dalam hubungannya, baik hubungan asmara maupun lainnya.

Banyak orang yang secara tidak sadar melakukan tindakan tersebut. Tentu saja hal itu dapat mengganggu hubungan jika terjadi secara terus menerus.

Apa Itu Silent Treatment?

Silent Treatment merupakan Tindakan mendiamkan seseorang secara sengaja Ketika merasa marah, kecewa, atau menghadapi konflik lainnya.

Pada umumnya, mereka melakukan perbuatan tersebut dalam jangka Waktu lama dengan tujuan membuat pihak lain merasa cemas dan khawatir.

Mereka tidak ada niat untuk menjelaskan perasaan, emosi, serta menanggapi kejadian yang tengah menghantam hubungannya.

Bahkan, sering kali menjadikan perilaku ini sebagai senjata untuk memanipulasi atau menghukum orang lain.

Hal ini selaras dengan kutipan dari tulisan Susiana Nur Safitri dan kawan-kawan dalam jurnal Warta Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, vol. 7, no. 2 tahun 2024, mereka menyatakan silent treatment adalah tindakan mendiamkan lawan bicara dengan maksud memberikan pemahaman kepada lawan bicara mengenai situasi tertentu.

Tentu saja, perilaku tersebut dapat mengganggu keberlangsungan hubungan karena mhanya memendam masalah bukan menyelesaikannya.

Apa Penyebab Orang Melakukan Silent Treatment?

1. Kurang Terampil dalam Komunikasi

Bagi sebagian orang mengungkapkan perasaan dan emosi yang sedang dirasakan bukanlah perkara yang mudah. Mereka kesulitan dalam menentukan emosinya, sehingga susah untuk menyampaikannya secara verbal.

Terlebih lagi, bagi mereka yang cenderung pendiam, sungkan untuk mengutarakan perasaannya. Dengan begitu, salah satu cara untuk mempertahankan diri, mereka memilih untuk menjauh dari permasalahan dan menutup diri.

2. Usaha untuk Mengontrol atau Memanipulasi

Pada beberapa perkara, silent treatment justru membuat lawan bicara merasa bersalaha dan cemas dengan sikapnya tersebut, baik pasangan, keluarga, ataupun lingkungan sekitar.

Upaya tersebut bisa membuat pihak lain memilih untuk menyerah atau mengakhiri perang dingin yang terjadi dengan meminta maaf, sehingga pelaku merasa menang dalam situasi tersebut.

3. Pola dari Masa Lalu

Karakter seseorang terbentuk sejak masih kecil, baik sikap yang positif maupun negatif. Secara tidak sadar, ketika beranjak dewasa ia membawa perilaku negatif tersebut. Salah satunya yaitu menghindari konflik dengan silent treatment.

4. Menghindari Konflik

Salah satu alternatif yang paling mudah diambil saat berada dalam permasalahan yaitu dengan memilih diam demi menghindari konflik yang terjadi dalam hubungannya.

Apa Saja Ciri-Ciri Orang yang Silent Treatment?

1. Mengabaikan Konflik dalam Jangka Waktu lama

Silnet treatment cenderung berlaku dalam jangka waktu yang lama, bahkan tidak jarang kondisi tersebut membuat lawan bicaranya memilih untuk mengalah karena tidak tahan dengan situasi yang terjadi.

2. Menolak Komunikasi atau Interaksi

Mengutip dari tulisan William dan kawan-kawan dalam jurnal The Silent Treatment: Perceptions of Its Behaviors and Associated Feelings, vol. 1, no. 2, tahun 1998, menyatakan bahwa ciri-ciri silent treatment melibatkan tindakan seperti menghindari kontak mata, berusaha untuk tidak menunjukkan perhatian, menghindari segala bentuk komunikasi, dan tidak memberikan respon terhadap pertanyaan atau komentar yang diajukan.

3. Tidak Memberikan Penjelasan

Pada umumnya, pelaku silent treatment tidak akan memberikan penjelasan apapun mengenai tindakannya. Selain itu, mereka juga tidak akan mengemukakan pendapat tentang konflik yang sedang terjadi.

Apakah Bahaya Melakukan Silent Treatment pada Pasangan?

Perilaku ini bisa membuat pihak lain mengalami gangguan mental yang setara dengan kekerasan fisik, diantaranya menjadi kurang percaya diri, merasa rendah diri, dan terus-terusam merasa bersalah.

Hal ini sesuai dengan kutipan dari tulisan Sri Ayu Irawati dalam jurnal Ilmu Hukum, vol. 3, no. 2, tahun 2025, menyatakan bahwa silent treatment termasuk dalam kekerasan emosional karena pelaku secara sadar menggunakan keheningan untuk menghukum atau mengendalikan pasangan. Dampak psikologisnya setara dengan kekerasan verbal maupun fisik dalam jangka panjang

Bagaimana Cara Menghadapi Pasangan yang Silent Treatment?

1. Tetap Tenang

Ketika lawan bicara memilih untuk silent treatment, usahakan kamu bisa berlaku tenang. Tidak perlu memberikan penjelasan dengan emosi yang memuncak atau mencecarnya dengan banyak pertanyaan.

Dengan begitu, ketegangan yang terjadi akan mereda dan tidak ada konflik berkelanjutan. Beri jeda waktu untuk diri kamu dan pasangan agar bisa memahami kondisi yang sedang terjadi.

2. Komunikasi Ketika Emosi Mereda

Setelah emosi mereda, kamu bisa membangun ruang diskusi dengan kepala dingin untuk menyampaikan secara jujur dan terbuka tentang sudut pandang kamu.

Jadi, tidak perlu saling menyalahkan karena diskusi tersebut bertujuan untuk mencari solusi bukan mengulik kesalahan satu sama lain. Usahakan sampaikan pendapat dengan kalimat yang baik.

3. Tetapkan Batasan

Beri batasan yang sehat dan kuat, karena kamu mempunyai hak serta wewenang untuk membicarakan masalah, namun tetap menjaga respon diri agar tidak mengejar penjelasan secara berlebihan.

4. Meminta Bantuan Profesional

Apabila pola tersebut terus berulang dan mulai mempengaruhi mental, rencanakan untuk melakukan konsultasi dengan ahli profesional seperti konselor atau psikolog yang bisa membantu mencari cara komunikasi untuk kedua belah pihak.

Apakah Silent Treatment Toxic?

Ya, karena berdiam diri untuk menghindari konflik termasuk bentuk manipulasi karena efeknya pada korban setara dengan kekerasan fisik.

FAQ

- Apa itu silent treatment?

Silent treatment merupakan tindakan mendiamkan pihak lain secara sengaja dalam jangka waktu lama dengan tujuan untuk mengontrol atau memanipulasi emosional.

- Apa ciri-ciri orang silent treatment?

Mengabaikan konflik, menolak komunikasi dan interaksi, dan tidak memberikan penjelasan terkait tindakannya.

- Apakah Bahaya Melakukan Silent Treatment pada Pasangan?

Ya, karena dapat memberikan berbagai macam dampak psikologis yang buruk pada pasangan seperti kurang percaya diri, rendah diri, hingga

- Bagaimana cara menghadapi pasangan yang silent treatment?

Tetap tenang, komunikasi setelah emosi reda, tetapkan batasan, hingga meminta bantuan kepada ahli profesional.

- Apakah Silent Treatment Toxic?

Ya, karena termasuk tindakan abusive secara mental. Efeknya pada korban juga setara dengan kekerasan fisik.