ARASVARA.ID - Publik tengah ramai membicarakan kisah pilu yang dialami pasien BPJS bernama Yurizal Tri Chaerawan. Unggahannya di platform Threads menuai hujatan dari sejumlah tenaga kesehatan (Nakes).

Pasien tersebut menuliskan sebuah utas yang mengungkapkan keluh kesahnya menunggu hingga 8 jam namun belum mendapatkan ruang rawat inap. Unggahan tersebut justru dibanjiri dengan hujatan dan ejekan dari oknum Nakes.

Kemarahan warganet memuncak setelah tersiar kabar bahwa sebelum Yurizal wafat, ia sempat membaca komentar negatif tersebut dan merasa sedih hingga mengaktifkan mode airplane pada ponselnya. Kasus ini mendapatkan banyak perhatian dari berbagai kalangan, salah satunya adalah dr. Gia Pratama.

Baca Juga: Cara Menghadapi Orang Depresi, Terapkan Kepada Orang Terdekat

Pesan dr. Gia Pratama pada Seluruh Tenaga Kesehatan

Kasus viral tersebut menarik perhatian dr. Gia Pratama, dokter yang terkenal dengan sebutan soft spoken. Selama ini dr Gia aktif memberikan edukasi mengenai kesehatan hingga prosedur pelayanan BPJS di berbagai paltfrom sosial media.

Menanggapi kasus tersebut, dr. Gia menuliskan sejumlah nasihat kepada para tenaga kesehatan dengan bahasa yang menyentuh hati pembaca.

1. Bersikap Profesional

Ia menegaskan bahwa profesi dokter dan tenaga kesehatan lainnya mengemban tanggung jawab besar, sehingga perlu mengesampingkan emosi serta bersikap profesional dalam menghadapi setiap pasien.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Sabun Cuci Muka dengan Kandungan Niacinamide, Bantu Mencerahkan Wajah

Sebab, rasa lelah yang dirasakan tenaga kesehatan tidak sebanding dengan kelelahan yang harus ditanggung pasien.

"Teman-teman dokter, teman-teman nakes. Jas putih yang kita kenakan, seragam rumah sakit yang melekat di tubuh kita, sejatinya adalah pakaian penetral emosi.

Saat seragam itu dipakai, kita sedang mengingatkan diri sendiri bahwa segala lelah, kecewa, marah, dan segala tekanan yang kita rasakan, ada tanggung jawab besar untuk tetap bersikap profesional.

Karena selelah-lelahnya menjadi tenaga kesehatan, percayalah, masih lebih melelahkan menjadi pasien." Tulis dr. Gia Pratama di Threads pada (5/8/2026).

2. Beri Kabar pada Pasien Mengenai Kondisi Tubuhnya dengan Baik

Ketidaktahuan sering kali membuat seseorang bertindak lebih agresif, terutama ketika mengkhawatirkan kondisi kesehatan orang-orang tercinta.

Page Break

Dengan begitu, dokter dan tenaga kesehatan sebagai pihak yang memahami kondisi pasien serta seluruh prosedur perawatan, perlu menyampaikan informasi kepada pasien dan keluarganya dengan nada yang lembut serta cara penyampaian yang baik.

"Bagi orang yang sedang takut kejelasan adalah bentuk kasih sayang. Nada suara yang lembut adalah obat pertama. Penjelasan yang apa adanya itu membuat menunggu terasa lebih manusiawi." Ungkap beliau.

3. Pasien dan Tenaga Kesehatan Adalah Partner

Dr. Gia menyampaikan bahwa hubungan antara pasien dan tenaga kesehatan bukanlah hubungan atasan dan bawahan, melainkan partner dalam berjuang melawan penyakit.

"Hubungan kita dengan pasien tidak dibangun seperti hubungan atasan dan bawahan. Kita adalah partner. Kita berdiri di sisi yang sama, bahu-membahu melawan penyakit."

4. Larangan Merendahkan Pasien

Beliau juga memberikan pernyataan bahwa setiap rasa lelah, marah dan frustasi yang dirasakan oleh tenaga kesehatan sangatlah wajar. Namun, merendahkan pasien dengan kalimat yang melukai adalah kesalahan mutlak.

Lelah dapat dipahami. Marah dapat terjadi. Frustrasi adalah bagian dari hidup.

"Namun Merendahkan pasien, Mempermalukan orang yang sedang sakit, atau melontarkan kalimat yang melukai martabat manusia, tidak memiliki pembenaran dari sisi mana pun."Ujar dr. Gia Pratama.

Unggahan dr. Gia Pratama mendapatkan banyak respon positif dari warganet. Mereka berharap tenaga kesehatan dapat bersikap lebih bijaksana saat menghadapi pasien, baik ketika memberikan pelayanan di rumah sakit maupun berinteraksi di media sosial.